Tarra > Blog

Masihkah Seorang Penyiar Radio Dibutuhkan Oleh Radio?

Dalam hal ini tidak perlulah membahas sejarah panjang radio, apalagi hingga mesti membahas siapa itu marconi, kepanjangan dan mules juga ngebahasnya. akan tetapi jika ngomongin radio sudah barang tentu ngomongin penyiar. Secomot sejarah saja bahwa radio itu muncul dan terkenal justru bukan sebagai media hiburan semata, bukan hanya memutar musik dan lagu-lagu belaka. Radio didengarkan oleh khalayak justru karena adanya propaganda dari orang yang bicara di radio. Adolf Hitler, Musolini adalah tokoh-tokoh yang memanfaatkan kekuatan radio.

Di Indonesia ada seorang Bung Tomo, pada saat pertempuran di Surabaya Bung Tomo ini sempat membakar semangat rakyat melalui radio.

Dalam kurun waktu 4 (empat) tahun belakangan ini di Indonesia jika diperhatikan radio-radio cenderung mengurangi peran penyiar, mereka lebih suka memperbanyak porsi pemutaran lagu-lagu. Pendengar dimanjakan dengan lagu-lagu yang hampir tanpa jeda. kenapa dibilang hampir tanpa jeda, karena kalau tidak ada iklan atau insert, bumper in atau bumper out atau jingle, rasanya akan lagu terus menerus.

muncul rasa penasaran, apa yang terjadi dengan radio?. Apakah sudah menurun tingkat kepercayaan radio terhadap fungsi penyiar ? apakah sudah dianggap tidak penting keberadaan penyiar ?

Lebih gila lagi adalah para pemasang iklan yang membelanjakan biaya iklannya pada radio yang memang cuma memutar lagu saja, dan pemasang iklan percaya sangat( percaya) pada kitab survey yang dilakukan oleh lembaga survey.

sedikit curiga pada program director yang akhirnya menyerah dan hasilnya buntu dalam mencipatakan sebuah program kreatif yang melibatkan penyiar, sehingga jalan pintas adalah memperbanyak play list di komputer dan cukup membayar operatory ang menjaga komputer, pemancar dan beberapa perangkat siaran tetap menyala.

Kreatifitas penyiar itu justru candu bagi pendengar dan sangat membuat ketagihan, belum lagi bicara masalah karakteristik atau air personality penyiar yang lucu, menggemaskan atau ngangenin pendengarnya. hanya yang menjadi masalah tingkat kecerdasan seorang penyiar pun menjadi salah satu yang mesti dipertimbangkan, saya ingat saat mendapatkan pelatihan almarhum Temmy Lesanpura bahwa humor itu serius, artinya perlu kecerdasan, perlu persiapan dan perlu konsep, bahkan almarhum Temmy sangat anti spontanitas, sebab spontanitas berbeda dengan improvisasi.

Dalam hal iklan, adlib itu lebih mahal dibanding dengan spot, namun faktanya pemasang iklan lebih suka memilih spot dan akhirnya adlib menjadi dibonuskan. masalah ini menjadi tantangan bai para praktisi siaran dalam mengembangkan potensinya, karena adlib itu pada dasarnya lebih berdampak dibandingkan spot, permasalahannya kemampuan penyiar dalam melakukan adlibing inilah yang mesti dipertanyakan, ya itu tadi berkaitan dengan tingkat kecerdasan, yang salah satunya ialah kecerdasan membuat angle sudut( pandang).

Kecerdasan dalam bridging lagu yang mengkaitkan lagu dengan kondisi atau materi pembicaraan menjadi kecerdasan lain dari seorang penyiar. Belum lagi tentang musikalitas dan song knowledge seorang penyiar menjadi kelebihan tersendiri.

Sejujurnya tidak akan pernah ada pendengar yang loyal pada sebuah radio, sebab loyalitas mereka dibangun oleh keberadaan penyiarnya, maka tidak heran bila terjadi bajak membajak penyiar antar radio demi menarik pendengar sebanyak-banyaknya, bahkan artis terkenal yang tidak punya pengalaman radio atau pelatihan broadcast pun dijadikan penyiar, untuk apa ? jawabannya adalah raihan pendengar.

sebuah kritikan bagi para pemilik radio, yaitu janganlah pelit dalam memberikan pelatihan-pelatihan bagi penyiarnya, perkara setelah cerdas terus pindah ke radio lain adalah perkara lain pula. PRSSNI sebagai organisasi radio paling eksisting pada saat ini kurang perhatian pada penyiarnya, bersyukur saya di jaman lampau masih menikmati pelatihan-pelatihan oleh PRSSNI.

Sumber : .kompasiana.com

Mediterania Lagoon Residence, Jakarta Pusat, Indonesia 10630